Minggu, 30 Maret 2014

MATERI KERANGKA BERFIKIR ILMIAH


Definisi.
Pertama yang harus didefinisikan adalah kata definisi itu sendiri. Mengapademikian? Tanpa kita sadari secara penuh, sebenarnya “Definisi” adalah unsurpengetahuan yang kita butuhkan. Baik dalam kehidupan Ilmiah maupun dalamkehidupan sehari-hari kita sering berurusan dengan “Definisi".
Lalu apa defenisi dari “Defenisi”? Secara sedrhana defenisiadalah Batasan /Membatasi sesuatu sehingga kita dapat memilikipengertian terhadap sesuatu atau memberikanpengertian/penjelasan tentang sesuatu hal dan disertai dengan batasan-batasansehingga hal tersebut menjadi jelas. Karena teori ini mengharuskan adanya “Batas”dalam sebuah objek yang hendak didefinisikan, secara langsung juga membutuhkansesuatu yang menjadi karakteristiknya. Apakarakteristik itu? Secara singkat dapat kita sebut sebagai Genera (Jenis)dan Difffferentia (Sifat pembeda). Dapat disimpulkan bahwa inti dari definisi yang pertama ini adalahmenjelaskan sesuatu yang terbatas. Konsekwesinya, jika sesuatu tidak terbatasmaka tidak dapat didefinisikan.
Jika kita mencoba mendefinisikan judul diatas (kerangka berpikir ilmiah)maka kurang lebih seperti berikut:
Kerangka adalah sesuatu yang menyusun atau menopang yang lain, sehinggasesuatu yang lain dapat berdiri, dan Berpikir merupakan gerakakal dari satu titik ke titik yang lain. Atau bisa juga gerak akal daripengetahuan yang satu ke pengetahuan yang lain. Pengetahuan pertama kita adalahketidaktahuan (kita tahu bahwa kita sekarang tidak mengetahui sesuatu),pengetahuan yang kedua adalah tahu (kemudian kita mengetahui apa yangsebelumnya tidak kita tahu). Wajar kemudian ada juga yang mendefinisikanberpikir sebagai gerak akal dari tidak tahu menjadi tahu. Tapi yang penting(inti pembahasannya) adalah adanya gerak akal.
Ilmiah adalah sesuatu hal/penyataan yang bersifat keilmuan yang sesuaidengan hukum-hukum ilmu pengetahuan. Atau sesuatu yang dapat dipertanggung jawabkan,dengan menggunakan metode Ilmiah (Prosedur atau langkah-langkah sistematis yangperlu diambil guna memperoleh pengetahuan yang didasarkan atas uji cobahipotesis serta teori secara terkendali). Satu hal yang menjadi garis bawahadalah “kebenaran ilmiah tidak mutlak, melainkan bersifat sementara, relatif,metodologis, pragmatis, dan fungsionalis, dan pasti Epistemologis”.Dengan demikian dalam kacamata dunia Ilmiah berdasarkan metode ilmiah, ilmupengetahuan sebagai hasil fikir manusia akan terus bertambah tanpa mengenalbatas akhir.Permasalahan Berfikir Ilmiah sudahtentu tidak terlepas dari kajian filsafat ilmu, karena iamerupakan bagian dari pengetahuan ilmiah. Sebelum memasuki pembahasan mendalampenting kiranya saya jelaskan secara singkat apa itu filsafat? (Mengingatkajian kita nantinya akan banyak bersinggungan dengan keilmuan ini).
Filsafat atau Falsafah (Arab) Pilosopia (Latin) bada dasarnya berasal dari bahasa Yunani “Philo” yang berarti cinta dan “Sophia” yangberarti arif, bijaksana / pandai. Secara bahasa semulaFilsafat lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan, kepandaian.Namun, cakupan pengertian “Sophia” yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu“Sophia” tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaranpertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat dll.

Pembahasan.
Seorang filosof pada dasarnya bukansosok yang menakutkan / kafir / tidak familier, karena tujuan awal darifilsafat sendiri adalah Love of Wisdom sehingga orang yang berfikir filsafathakekatnya adalah pencari kebijaksanaan & mencintainya. Istilah ini kononpertama di perkenalkan oleh pytagoras.
Jika diatas kita sudah membahas maknaFilsafat secara bahasa, sekarang bagaimana pemaknaan filsafat itu menurut parafilosof besar? Plato; Filsafat adalah pengetahuan yang berminatmencapai pengetahuan kebenaran asli. Aristoteles; Filsafatadalah ilmu (Pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik danestetika.  Al-Farbi; Filsafat adalah ilmu pengetahuan ttgalam wujud, bagaimana hakekat yang sebenarnya. Hasbullah Bakry;  Ilmufilsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam.
Disini penulis akan menitik beratkan pada tradisinya, bukan sekedar pengertiannya.Darisekian filosof yang kita kenal baik didunia barat maupun timur, ada satutradisi yang hampir-hampir menjadi benang merah ketika menyelesaikan sesuatusdengan jalan filosofis, yaitu tradisi berfikir. Filsafat yangmempunyai arti sebagai berpikir secara radikal, menyeluruh dan sistematis.Maksudnya, dengan berpikir radikal (bhs Yunani radix=akar) atau sampai keakar-akarnyabukan cuman dlohirnya, sehingga melihat sesuatusecara menyeluruh dan tersusun sehinggadiharapkan kita dapat lebih arif dalam melihat persoalan. Ketika dilekatkan dengan kata ilmu makaberarti secara radikal, menyeluruh, komperhensif, diskriptif dan sistematis terhadapilmu.
Menurut Jujun S. Suriasumantri filsafat ilmu merupakan bagian dariepistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu(pengetahuan ilmiah). Lebih lanjut Jujun mengatakan bahwa semua sistemkefilsafatan selalu berkisar pada masalah Ontologi, Epistemologi dan Aksiologikarena, ketiga sub sistem tersebut selalu berkaitan satu sama lain. Ontologiilmu terkait dengan Epistemologi ilmu, dan Epistemologi ilmu terkait denganAksiologi ilmu.
Atau secara sederhana dapat kita katakanbahwa: Epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang sumberpengetahuan berikut kevalidan sebuah sumber. Kedua Ontologi, membahas tentanghakikat sesuatu dalam hal eksistensi dan esensi. Atau dengan kata lainkeberadaan dan keapaan sesuatu. Ketiga aksiologi, membahas tentang kegunaansesuatu. Dalam materi ini saya akan lebihbanyak membahas aspek Epistemologi, yang lainnya hanya untuk memperjelas saja.
Menurut William S. Sahakian; Epistemologi merupakan“pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan : Apakah sumberpengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakahmanusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? Sampai tahap manapengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia.
Secara Bahasa / Lughowi, Epistemologi berasal daribahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Istilah yang sama dalam bahasayunani adalah Genosis, sehingga dalam sejarahnya istilah Epistemologi inipernah juga disebut “Genoseologi”. Pengetahuan dalam hal ini ada beberapapersoalan pokok yang secara garis besar terbagi dua. Pertama,persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/appearance) versushakikat (noumena/essence): Apakah sumber pengetahuan? Dari mana sumberpengetahuan yang benar itu datang? Bagaimana cara diketahuinya? Benarkah adarealita di luar pikiran kita? Apakah kita mengetahuinya?. Kedua,tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi: Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)?Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dan yang salah?. (Ringkasnya; Bagaimana kitamengetahui atau memperoleh pengetahuan dan bagaimana menguji kebenaranpengetahuan tsb / Evaluatif dan Kritis).
Lantas apa itu pengetahuan? Ada yangmengatakan pengetahuan adalah informasi atau ide, yang telah diterima sebagaifakta yang benar, bisa jadi itu diperoleh dengan pengindraan atau kegiatanempirik secara langsung maupun melalui proses penalaran rasional terhadapide-ide yang telah ada dalam alam pikir manusia.  Dikemudianhari orang yang lebih menekankan kegiatan empirik untuk memperoleh pengetahuandikatagorikan dalam penganut faham Empirisme sedangkan yang mengandalkan padarasionalitas disebut sebagai penganut faham Rasionalisme sebagaimana sejarah Filsafat Barat mencatat; Ada dua aliran pokok dalamepistemologi. Pertama, idealism atau rasionalism (Plato), yaitusuatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran “akal”, “idea”, “category”,“form”, sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan mengesampingkan peran“indera”. Kedua, adalah realism atauempiricism (Aristoteles),yaitu aliran pemikiran yang lebih menekankan peran “indera” sebagai sumbersekaligus alat memperoleh pengetahuan, serta menomorduakan akal. Kedua alirantersebut lahir pada zaman Yunani antara tahun 423 sampai dengan tahun 322sebelum Masehi.
Selanjutnya dalam sejarah filsafat Islam tercatat aliran epistemologi yangmenekankan pentingnya integrasi metode rasionalism dan empiricsm yangmelahirkan metode eksperimen. Dalam metode ini pertentangan antara penalaranrasio dan empiri seperti yang dianut Barat dihilangkan. Metode ini dikembangkanoleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam, yaitu ketika ilmu danpengetahuan lainnya mencapai titik kulminasi antara abad IX dan XII Masehi.Kemudian diperkenalkan di dunia Barat oleh filsuf Roger Bacon (1214-1294) sertadimantapkan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626).Fakta ini diperkuat oleh H.G. Wells yang menyatakan bahwa “jika orang Yunaniadalah bapak metode ilmiah, maka orang Muslim adalah bapak angkatnya”. Dalamperjalanan sejarah maka lewat orang Muslimlah dunia modern sekarang inimendapatkan kekuatan dan cahayanya, dan diakui telah memberi sumbangan besarbagi lahirnya renaissans dalam peradaban Barat (Insya Allah akan dibahas nanti,jika memungkinkan, jika tidak ya tetap bisa dipelajari & bisa dibaca).
                Setelahmengetahui pokok dasar dari epistemologi adalah “Bagaimana kita mendapatpengetahuan” perlu kiranya kita mengetahui sumber-sumber pengetahuan. Secara umum ada beberapa mazhab pemikiran yang berusaha menawarkan sumber-sumberpengetahuansebagai mana berikut:

1. Skriptualisme
Skriptualisme adalah sebuah sistem berpikir yang dalam menilai kebenarandigunakan teks kitab. Asumsi dasar yang terbangun adalah teks dalam kitabmutlak adanya, oleh karenanya dalam penilain kebenaran harus sesuai dengan tekskitab. Mempertanyakan teks kitab sama saja dengan mempertanyakan kemutlakan.Biasanya kaum skriptual adalah orang yang beragama secara sederhana. Maksudnya,peran akal dalam wilayah keagamaan sangat sempit bahkan hampir tidak ada. Akaldianggap terbatas dan tidak mampu menilai, olehnya kembali lagi ke tekskitab. Namun dalam wilayah epistemologi, skriptualisme memiliki beberapakekurangan, antara lain:
·         Tidak memilikialasan yang jelas, mengapa kita harus mempercayai kitab tersebut. Kalau yangmutlak adalah teks kitab, maka pertanyaannya “Bagaimana caranya diantara banyakkitab menilai bahwa kitab inilah yang benar”. Kalau kita langsung percaya, makakitab lain juga harus kita langsung percaya. Nah, kalau kontradisi, kitab yangmana benar? Artinnya, kelemahan pertamanya adalah butuh sesuatu dalammembuktikan kebenaran sebuah kitab.
·         Dari kelemahanpertama dapat kita turunkan kelemahan berikutnya, yakni: terjebak padasubjektifitas. Artinya, kebenaran sebuah kitab sangat tergantung pada umatnya.Kebenaran Al Qur’an, walau berbicara universal, hanya dibenarkan oleh umatIslam. Umat Nasrani, Budha dan sebagainya meyakini kitab mereka masing-masing.Sementara kita tidak dapat memaksakan kitab kita pada umat lain sebagaimanakita pun pasti tidak akan menerima teks kitab umat lain
·         Kelemahan ketigaadalah teks adalah “tanda” atau simbol yang membutuhkan penafsiran. Kitab tidakbisa berinteraksi langsung, tetapi melewati proses penafsiran. Sementara dalampenafsiran sangat tergantung kualitas intelektual dan spiritual seseorang.Makanya kemudian, adalah wajar jika sebuah teks dapat dimaknai berbeda. Sebagaicontoh, surah 80:1

 “Alif laam miin”
Teks tidak dapatmembuktikan pencipta

2. IdealismePlatonian
Pemikiran Plato dapat digambarkan kurang lebih seperti ini. Sebelum manusialahir dan masih berada di alam ide, semua kejadian telah terjadi. Olehnya,manusia telah memiliki pengetahuan. Ketika terlahir di alam materi ini,pengetahaun itu hilang. Untuk itu yang harus manusia lakukan kemudian adalahbagaimana mengingat kembali. Pengetahuan yang kita miliki hari ini kemarin danakan datang sebetulnya (dalam perspektif teori ini) tidak lebih daripengingatan kembali. Teori ini juga sering disebut sebagai teori pengingatankembal. Namun sebagai alat penilaian, teori ini memiliki beberapa kekurangan.
·         Tidak ada landasanyang memutlakkan bahwa dahulu kita pernah di alam ide
·         Turunan dari yangpertama, kalaupun (jadi diasumsikan teori ini benar) ternyata sebelum lahirkita telah memiliki pengetahuan, maka persoalannya adalah apakah pengetahuankita saat ini selaran dengan pengetahuan kita sewaktu di alam ide. Kalaudikatakan selaras, apa yang dapat dijadikan bukti.
·         Ketiga, tidakditerangkan dimanakah ide dan material itu menyatu (saat manusia belumdilahirkan), dan mengapa disaat kita lahir, tiba-tiba pengetahuan itu hilang.Kalau dikatakan material kita terlalu kotor untuk menampung ide, maka mengapasaat ini kita bukan saja memiliki ide, tapi bahkan mampu mengembangkan idedisaat material kita justru semakin kotor.

3. Empirisme
Doktrin empirisme berlandaskan pada pengalaman dan persepsi inderawi. Olehkarena itu, kebenaran dalam doktrin ini adalah sesuatu yang dapat ditangkapoleh indra manusia. Bangunan sains kita pada hari ini sangat kental nuansaempirisnya. Tetapi empirisme memiliki kekurangan sebagai berikut:
·         Indera terbatas matamisalnya memiliki daya jangkau penglihatan yang berbeda. Begitupun telinga danindera lainnya. Olehnya indera hanya bisa menangkap hal-hal yang bersifatterbatas atau material pula. Makanya fenomena penyembahan dan jatuh cinta misalnya,tidak dapat dijawab dengan tepat oleh kaum empiris.
·         Indera dapatmengalami distorsi. Sebagai contoh terjadinya fatamorgana atau pembiasan bendapada dua zat dengan kerapatan molekul berbesa. Ketika kita masukkan pensil kedalam gelas berisi air kita akan melihatnya bengkok karena kerapatan molekulair, gelas dan udara sebagai medium berbeda. Padahal jika kita periksa ternyatapensil tetap lurus.

4. Kaum Perasa (Intuisi)
Kaum perasa selalu menjadikan perasaannya sebagai tolok ukur kebenaran.Ciri khas mereka adalah “Yakin saja”. Mereka menganggap dirinya sebagai orangyang paling mampu mendengar suara hatinya, dan menjadikan suara hatinya sebagaiukuran kebenaran. Banyak orang beragama seperti ini padahal sistem berpikirmacam ini memiliki kekurangan dalam pembuktian kebenaran sebagai berikut:
·         Tidak jelas yangdidengar itu adalah suatu hati atau justru sekedar gejolak emosional, ataubahkan (dengan pendekatan orang beragama) justru bisikan setan. Jangan sampaihanya gejolak emosi lantas dianggap suara hati, atau bisikan setan. Nahpersoalannya bagaimana membedakannya?
·         Kalau pun didengaradalah suara hati, maka akan subjektif. Karena hati orang berbeda. Jikasubjektif, maka yang didapatkan adalah relativitas, bukan kemutlakan.
·         Tidak punya landasanmengapa kita mesti mengikuti suara hati. Kalau akal menjustifikasi penggunaanhati berarti tidak konsisten. Tetapi kalau menggunakan hati sebagai alasanmengapa harus mengikuti suara hati, maka kembali ke point sebelumnya.

Selanjutnya dalam kacamata Epistemologiada beberapa istilah yang penting untuk diketahui seperti Skeptisme; Dalambahasa yunaninya adalah Skeptomai maknanya saya berfikirdengan seksama atau saya lihat dengan teliti, kemudian diturunkan arti yangdihubungkan dengan kata tersebut yaitu “Saya Meragukan”. Adalah Naif jika adaorang yang tidak pernah meragukan sesuatu apapun, dengan meragukan maka prosesverifikasi akan terjadi. Kemudian Subjektivisme; Mengandaikanbahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti ada dalam diri kitasendiri & kegiatan sadar kita. Dengan kata lain pengetahuan yang bukan AKUadalah pengetahuan yang tidak langsung. Sehingga muncul apa yang disebut denganThe Problem of Bridge (Soal Jembatan Pengetahuan), yaitu Bagaimana orang dapatkeluar dari pikirannya sendiri dan mengetahui dunia objektiv diluar kita?Bagaimana kita bisa tau bahwa gagasan itu memang sesuai dengan Objeknya sendiri(Bukan cuman ilusi kita) Relativisme; Mengingkari adanya dandiketahuinya kebenaran yang Objektiv dan Universal oleh manusia (Kebenaran yangada dimanusia adalah kebenaran yang bersifat relatif)
Mana yang Rasional..? Menurut Kang Jalal, sesutu kadang dianggap tidak rasional karena tiga hal.Pertama tidak empiris. Sesuatu yang tidak dicerna indra manusia biasanyadianggap tidak rasional. Hal ini umumnya menghinggapi orang yang sangatempiris. Kedua menyimpang dari rata-rata. Sewaktu perang Khaibar, kaum muslimmenundukkan benteng terakhir kaum Yahudi. Para sahabat sejumlah 50 laki-lakiyang kuat tidak mampu mengangkat pintu benteng itu, tapi Sayyidina Ali mampumengangkatnya sendirian. Ini dianggap tidak rasional, padahal hal ini rasionalhanya tidak seperti kebanyakan. Ketiga tidak tahu. Ketidaktahuan adalahkelemahan yang orang berusaha tutupi dengan penisbahan stigma irasional.
Rasionalisme tidak menutup diri dari teks, pengalaman atau persepsiinderawi, juga perasaan. Akan tetapi kaum rasionalis menggunakan akal dalammenilai semua yang ditangkap oleh bagian diri kita. Namun bagi sekelompokorang, akal tidak dapat digunakan untuk menilai kebenaran. Alasannya, akalterbatas. Artinya penggunaan akal sangat dekat dengan mengakal-akali sesuatu.
Memang benar bahwa akal terbatas dibanding PenciptaNya (selanjutnya dibahasdalam materi NDP / Dasar-Dasar Kepercayaan), akantetapi akal sebagai potensi untuk tahu, dimana batasnya? Hukum akal menyatakanbahwa sebab selalu mendahului, lebih kuat dari akibat. Jadi kesadaran akalsebagai ciptaan atau akibat pasti memiliki keterbatasan dihadapkan denganpenciptaNya. Cuma persoalannya adalah sejauh mana kita gunakan akal kita untukmengetahui.
Dalam kacamata seorang filsuf bahwa manusia adalah binatang berakal. SecaraBiologis manusia memiliki syarat-syarat kebinatangan seperti respirasi,eksresi, regenerasi dan sebagainya. Bedanya Cuma satu, akal. Artinya manusiayang tidak menggunakan akalnya bisa lebih buruk daripada binatang.
Kadang orang merancukan antara akal dan otak. Katanya, otaklah yangberpikir. Untuk menjawab hal ini sederhana. Seandainya otak yang berpikir, makatentu saja kerbau adalah makhluk yang cerdas karena volume otaknya lebih besardari manusia. Ternyata kedokteran modern menemukan bahwa dalam otak terdapatsel yang disebut neuron. Neuron inilah yang mengkoordinasikan kerja syarafdalam tubuh dimana tubuh disisi kanan diatur melalui tulang belakang menuju keotak kiri begitupun sebaliknya. Artinya otak tidak ada hubungannya dengan akal.Otak tidak lebih dari sebuah organ seperti jantung, paru-paru dan sebagainya.

Dalam diri kitaada beberapa fakultas pengetahuan, diantaranya:
·         Indera, yangmencakup warna, bentuk, bunyi, bau,dam sebagainya. Perbedaan dengan empirisme,empirisme menjadikan indera sebagai tolok ukur sedang rasionalisme menjadikanindera sebagai sumber pengetahuan namun bukan utama.
·         Khayal. Hasilpersekutuan ide yang tidak memiliki realitas eksternal. Misalnya ide manusiadan monyet yang kesemuanya memiliki realitas eksternal, namun jika digabungkanmenjadi kera sakti yang hanya memiliki realitas internal (dalam ide) tapi tidakdirealitas eksternal.
·         Wahmi. Berkaitandengan perasaan. Benci, cinta, rindu, jengkel dan sebagainya. Ilmu secarawahmiyah seperti pada kaum perasa diatas. Cuma perbedaannya wahmi masihdikontrol, bukan sebagai patokan utama.
·         Akal. Fakultas dalamdiri kita yang mengontrol semuanya.


Kita telahsampai pada pentingnya akal dalam menilai sesuatu. Namun, persoalannya lagibahwa ternyata akal pun masih bisa salah. Artinya akal tidak mutlak. Untukmenjawab hal ini, kita kembali ke pendefinisian awal. Berpikir adalah gerakakal. Hal ini berarti menandakan adanya proses. Analogi sederhana motor adalahakalnya, mengendarai motor adalah menggerakkan motor dari satu titik ke titiklain, atau berpikir. Dalam proses itu harus menaati aturan yang ada. Jika kitatidak menaati aturan seperti lampu lalu lintas dan rambu-rambu maka akanterjadi kecelakaan. Berpikir dengan tidak menaati rambu-rambu atau aturanberpikir akan menyebabkan kecelakaan berpikir.
Jadi terjadi kesalahan berpikir bukan akalnya yang salah, tapipenggunaannya yang tidak tepat. Untuk itu kita harus mengetahui bagaimanaaturan berpikir yang mutlak adanya, yang itupun harus dinilai kebenarannya.
Seorang pemikir telah membantu kita menyusun prinsip atau aturan berpikirtersebut yang sering disebut logika aristotelian atau logika formal sebagaiberikut:
1. Prinsip identitas. Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu hanya samadengan dirinya sendiri. Secara matematis dirumuskan: X=X
2. Prinsip non kontradiksi. Prinsip ini menyatakan bahwa tiada sesuatu punyang berkontradiksi. Sesuatu berbeda dengan bukan dirinya. Jika diturunkanmelalui rumus matematika: X ≠ X
3. Prinsip kausalitas. Prinsip ini menyatakan bahwa tidak ada sesuatupunyang kebetulan. Setiap sebab melahirkan akibat.
4. Prinsip keselarasan. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap akibat selarasdengan sebabnya.
Kira-kira begini:
Kambing jika kita beri emas dan rumput ia tidak akan mengambil emas karenarumput = rumput dan emas = emas artinya justru prinsip ini berlaku universal.
Ketika kita menangkap sesuatu kama akal kita akan mengatakan bahwa tidakmungkin dia ada dengan sendirinya, pasti ada penyebabnya. Dan akibat pastiselaras dengan sebabnya. Tidak mungkin benih jagung menyebabkan tumbuhnya pohonkurma. Semua yang ada di alam ini adalah bukti kemutlakan prinsip yang niscayalagi rasional ini.
Untuk menjelaskan hal itu Aristoteles juga mengembangkan metode ke dalambeberapa macam (Yang sebenarnya tidakjauh beda): 1. Induksi yaitu penalaran dari yang khusus kepadayang umum, 2. Deduksi yaitu penalaran dari yang umum kepada yang khusus 3.Observasi yaitu penggunaan bukti empiris, 4. Klasifikasi yaitu penggunaan definisi.Beberapa metode yang bermunculan sesuai dengan bidang keilmuannya diantaranyaphytagoras mengembangkan metode perhitungan matematika, democritus denganmengajukan konsep mekanisme. Dan metode ilmiah akhirnya menjadi sebuah tahapanyang bervariasi sesuai dengan disiplin ilmumyang dihadapi & untuk jelasnya silahkan baca buku logika atau kajian.

Pengantar Prinsip dan Bentuk Epistemologi Islam
Sesungguhnya cara berpikir rasional dan empirik merupakan bagian yang sahdari epistemologi Islam, bahkan menjadi unsur permanen dalam sistemepistemologinya. Metode eksperimen misalnya adalah produk kultur otentik daribudaya berpikir logis dengan bukti-bukti empiris yang dikembangkansarjana-sarjana Muslim. Sejarah membuktikan dengan ditemukannya Aljabar,Manthiq, Ilmu Falak dan lain-lain di dunia Islam jauhsebelum Eropa mengenal metode eksperimen dan hanya terkungkung pada corakberpikir monolinear antara rasionalisme atau empirisme sertamengesampingkan peran ajaran agama (sekularisme).
Di samping itu, salah satu karakteristik terpenting dari epistemologi Islamserta membedakannya dari epistemologi Barat yang sekular adalah masuknyanilai-nilai ajaran normatif agama secara signifikan sebagai prinsip-prinsipdalam epistemologi Islam. Wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits) diyakini memilikiperan sentral dalam memberi inspirasi, mengarahkan, serta menentukan skopkajian ke arah mana sains Islam itu harus ditujukan. Konsepsi ini mempunyaiakibat-akibat penting terhadap metodologi sains dalam Islam. Sehingga tidakheran bila kemudian wahyu diletakkan pada posisi tertinggi sebagi cara, sumberdan petunjuk pengetahuan Islam.
Permasalahannya, mengapa epistemologi Islam masih harus disandarkan padawahyu apabila dengan metode eksperimennya telah dicapai titik sebuah kebenaranlogis-empiris? Jawabnya adalah bahwa manusia diyakini memilki keterbatasankemampuan untuk mengetahui hakikat ilmu pengetahuan. Kenyataan membuktikanparadigma yang telah dibangun manusia terus menghadapi dilema-dilema besar yangsemakin sulit dipecahkan. Dalam konteks ini manusia memerlukan petunjuk sebagaipremis dari kebenaran. Premis kebenaran itu pastilah bersumber dari yang MahaBenar, yaitu Tuhan. Tuhan telah mewahyukan kebenarannya lewat Al-Qur’an. Namunbegitu, Kuntowijoyo mengatakan bahwa penerimaan premis kebenaran yang bersumberdari wahyu ini bersifat observable, dan manusia diberi kebebasanuntuk mengujinya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa sesungguhnya dasar paling sentral darinilai-nilai ajaran Islam yang menjadi prinsip-prinsip epistemologinya?. DalamIslam kita mengenal adanya konsep tauhid (iman), yaitu konsep sentral yangmenekankan keesaan Allah, Allah tunggal secara mutlak, tertinggi secara metafisisdan aksiologis, dan bahwa Allah adalah pusat dari segala sesuatu, berawal danberakhir pada-Nya. Dia-lah Sang Pencipta, dengan perintah-Nya segala sesuatudan peristiwa terjadi. Implikasi doktrinalnya yang lebih jauh adalah bahwatujuan kehidupan manusia tak lain kecuali menyembah kepada-Nya.
Dalam Al-Qur’an, fenomena alam sering dilukiskan sebagai tanda-tanda Allah;bahwa semua yang terjadi, pada akhirnya menuju kepada satu Pencipta yangmenciptakan, Pengatur dengan suatu sistem tunggal dan Penggerak denganketeraturan tunggal. Konsep tauhid (iman) inilah yang kemudian dipakai olehilmuwan muslim dalam berusaha menjabarkan kesatuan alam semesta, kesatuankebenaran, kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup, dan kesatuan umat manusiaserta dijadikan dasar sentral dari landasan epistemologi Islam.
Ok, Kaitannya denganini, Dr. Mahdi Gulsyani menulis
“Suatu keyakinan kokoh pada prinsip tauhid membuat sang penelitimelontarkan pandangan menyeluruh kepada alam, bukannya hanya melihat alamsecara sepotong-sepotong. Hal ini membuatnya mampu menerangkan keselarasan dantatanan dunia fisik. Tanpa suatu keyakinan kokoh pada kehadiran tatanan dankoordinasi pada alam, penelitian ilmiah tidak akan memiliki makna universal;dan paling banyak nilainya hanya bersifat sementara. Beberapa ilmuwan percayapada keberadaan tatanan dan koordinasi pada alam, tanpa mempercayai ataumemperhatikan prinsip tauhid; namun, menurut kami, tanpa mempercayai at-tauhid,tidak akan ada keterangan memuaskan tentang tatanan kosmis” (Gulsyani, 1984)
Sampai di sini ilmuwan muslim bersepakat bahwa konsep tauhidlah yangmenjadi prinsip pokok dalam epistemologi Islam.
Dengan begitu semakin jelas bagi kita, bahwa epistemologi Islam berupayauntuk menunjukkan arah kepastian kebenaran, di mana epistemologi ini berangkatdan berawal dari kepercayaan, serta selanjutnya memantapkan kepercayaan itumelalui perenungan-perenungan, penalaran, pemikiran, dan pengamatan yangdisandarkan pada wahyu Tuhan (Al-Qur’an dan Al-Hadits), dan diyakini bahwakebenaran wahyu tersebut merupakan kebenaran tertinggi, mengandung ayat (bukti), isyarat,hudan (pedoman hidup) dan rahmah(rahmat).
Sebenarnya konsep tauhid dalam Islam ini hampir serupa dengan konseppanteologisme yang dianut agama lain. Yaitu sama-sama berakar pada pandanganteosentris. Namun, paradigma teosentris yang dianut Islam berbeda denganteosentris agama lain dengan alasan bahwa sistem tauhid memiliki arus balikkepada manusia. Paradigma teosentris Islam (iman) selalu dikaitkan dengan amalmanusia. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pusat dariperintah zakat – misalnya – adalah iman kepada Allah, tapi ujungnya adalahterwujudnya kesejahteraan sosial. Dengan demikian, dalam Islam, konsepteosentris bersifat humanistik. Artinya, manusia harus memusatkan diri kepadaAllah (iman), tetapi tujuannya adalah untuk kepentingan manusia sendiri (amal).Dalam formulasi lain, Islam mengenalkan konsep dualisme manusia; sebagai hamba(abdun) yang menyembah Penciptanya (beriman), dan sebagai wakil Tuhan (khalifah)di muka bumi yang harus senantiasa bersosialisasi dengan jenis danlingkungannya (beramal).
Lantas, apabila prinsip epistemologi Islam adalah tauhid, bagaimanakahbentuk kongkrit dari epistemologi Islam dalam mengkaji ilmu pengetahuan?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa, pada awalnya diakui jikaepistemologi Islam dipengaruhi oleh epistemologi yang berkembang di Yunani.Aliran pokok yang diikuti oleh ilmuwan muslim adalah aliran rasionalism yangdikembangkan oleh Plato (423-347 SM) dan aliran realism yangdikembangkan oleh Aristoteles (384-322). Namun karena didapati antara keduanyasaling memposisikan aliran “dirinyalah” yang paling benar, maka ilmuwanmuslimpun mencari alternatif pemecahannya dengan cara menggabungkan antarakeduanya sehingga lahirlah metode eksperimen.
Metode ini telah dikembangkan oleh ilmuwan muslim antara abad ke-9 danke-12 Masehi, diantaranya adalah Hasan Ibn Haitsam – biasa disebut Alhazen diEropa –yang melahirkan karya tentang teori-teori fisika dasar, Jabir Ibn Hayyanatau Al-Jabar – biasa disebut Geber di Eropa – yang lahir pada pertengahan abadke-8, melahirkan karya tentang kimia secara konfrehensif, dan masih banyakilmuwan lainnya.
Selain metode eksperimen di atas, Islam mengakui intuisi sebagai salah satubentuk epistemologinya. Terlepas dari kontroversi yang digencarkan ilmuwanBarat yang menyatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi tidakdapat dijelaskan melalui proses logis-empiris, yakni tanpa pengamatan(observasi), tanpa deduksi (logis), bahkan tanpa spekulasi (rasional), ilmuwanmuslimpun meyakini intuisi sebagai sumber kebenaran paling tinggi. Dan sumberkebenaran ini hanya berada di bawah otoritas wahyu Tuhan (al-Qur’an), termasuktradisi kenabian (Al-Hadits).
Selain dinisbahkan kepada wahyu, metode intuisi sering juga disebut denganistilah lain yang subtansinya relatif sama, di antaranya adalah ilham (kasfy).Terminologi tersebut dimaksudkan untuk membedakan antara pengetahuan intuitifyang berbentuk wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits) yang diterima oleh Nabi, denganpengetahuan intuitif yang berbentuk ilham yang diterima oleh manusia. Pembedaantersebut adalah implikasi dari keyakinan Islam bahwa kemampuan pengetahuanantara Nabi dan manusia biasa berbeda.
Pada perkembangan epistemologi Islam selanjutnya, lahirlah metode lainsepertinadzr, tadabbur, tafakkur, bayyinah, burhan, mulahadzah, tajrib,istiqra’, qiyas, tamsil, ta’wil, dzati, hissi, khayali, ‘aqli, syibhi danlain sebagainya. Namun pada dasarnya dalam diskursus dunia pemikiran Muslim setidaknyaada tiga aliran penting yang mendasari teori pengetahuannya. Yaitu, (1)pengetahuan rasional, (2) pengetahuan inderawi, dan (3) pengetahuan kasfy lewatilham atau intuisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar